Bahkan untuk menulis sebuah judul pun aku kelelahan

Aku bisa merasakan pipiku basah. Air mataku turun deras dalam diam. Ketika aku mempertanyakan penyebabnya pada diriku sendiri, aku tidak memiliki jawabannya. Lalu aku hanya terus terdiam dan menikmati waktu yang berlalu dengan air mata yang tidak berhenti turun. Aku menatap hampa layar kaca televisi yang menayangkan acara komedi kesukaanku dengan pipi yang masih saja basah. Manusia bilang mereka adalah ciptaan yang paling sempurna. Sekarang, kupikir kita adalah ciptaan yang paling rapuh. Karena rusa, pohon, dan batu tidak akan menangis tanpa alasan. Aku hanya diam, berharap agar dengan tangisan ini aku merasa kelelahan, lalu tertidur dan tidak akan bangun lagi.

i can’t wait

I can’t wait for the days where we have our own little house so we can walk around in just our underwear and stay in bed all day if we want with our pug, named Puggy. We’ll shower together every morning and make dinners and watch Top Gear. Then, at the end of the day, we can fall asleep naked in each other’s arms knowing we’ll still be next to each other when we wake up in the morning. It will be perfect.

i will remember

i will remember the kisses

our lips raw with love

and how you gave me

everything you had

and how i offered you

what was left of me

and i will remember your small room

the feel of you in the light in the window

your records

your books

our morning coffee

our noons our nights

our bodies spilled together

sleeping

the tiny flowing currents

immediate and forever

your leg my leg

your arm my arm

your smile and the warmth of you

who made me laugh again

—Charles Bukowski

Aku Tidak Menikahi Masa Lalumu

Tuhan membawaku pergi ke malam itu. Ketika aku bertanya kenapa, Ia sama sekali tidak mengatakan alasannya. Aku hanya terdiam, mengira-ira apa yang selanjutnya terjadi dan bagaimana nantinya semua ini berakhir. Aku duduk di bangku kayu, memandang gelapnya bayangan pohon tua di samping gereja. Angin yang berhembus telah membawakan kenangan-kenangan stokastik sendu, dan aku memalingkan wajah memandang Tuhanku.

“Untuk apa ini semua?”

Ia hanya tersenyum, menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke dalam gereja. Aku mulai bertanya-tanya dosa apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan membawaku keluar dari surga dan menenggelamkanku lagi ke dalam gambaran ribuan tahun yang pekat ini. Tiap langkah yang kulalui, menjadi semakin berat. Udara yang kuhirup, semakin kotor. Dan altar itu, altar yang suci itu, aku memandang wajah Tuhan lagi.

“Apa itu tempatku disembelih?”

Ia menggeleng. Aku lega. Tapi Ia lantas menunjuk tempatku berdiri dan berkata, “Di sini, tempatmu membunuhnya.” Lalu ingatan purba itu mulai merasuki tubuhku, seperti asap kasat mata yang memenuhi otakku, masuk ke rongga-rongga dan menyisakan sedikit rasa sakit yang membuat tubuhku timpang dan terduduk lemas. Aku merasakan basah di pipiku, yang aku sadari bahwa itu adalah air mata. Ketika manusia surga menangis, ia akan menjadi fana. Debu kembali menjadi debu. Aku masih menangis, seperti air keran yang tidak bisa berhenti, aku menangis. Malam ini aku menangis dan aku merasa seperti terlahir kembali.

“Ayah, kenapa?”

“Cintailah masa lalunya.”

“Aku tidak bisa. Aku menikahinya, tapi aku tidak mau menikahi masa lalunya. Wanita-wanita itu kotor. Tidak pernah ada penyesalan yang kurasakan. Aku mencungkil mata tiap wanita yang melirik pujaan hatiku. Aku memotong lidah para wanita yang bicara pada pujaan hatiku. Dan aku merenggut jantung mereka saat aku tahu mereka menjadikan pujaanku satu-satunya sebagai jantung hati mereka.”

“Kau menggantung mati masa lalunya.”

“Ya. Aku memberangus masa lalunya. Kuberi kail di tiap-tiap kemaluan mereka dan kugantung mereka di bawah jembatan kota agar semua orang melihatnya!” Lalu aku berteriak, melolong ketakutan, dan menangis penuh kesedihan. Tuhan mengulurkan tangan sucinya padaku, aku menggantungkan hidupku padanya, dan ia, satu-satunya laki-laki yang pernah kucintai, berdiri di depanku. Sosoknya masih sama persis seperti dalam ingatan. Rambutnya hitam pekat, sebatas leher dan terlihat sangat rapi. Tatapannya masih tajam, hidungnya masih sama runcing, dan bibirnya yang tertekuk turun terlihat begitu nyata.

Setelah semua yang kulakukan untuknya, setelah semua cinta yang kuberikan untuknya, ia pergi. Aku ditangkap, ditelanjangi, dan disembelih di atas altar gereja karena seorang penyihir tidak bisa hidup di antara orang-orang suci. Saat itu, dalam tangisan darahku, aku bertanya pada suamiku, ”Kalau aku pergi, apa kau akan merindukanku?”

Tidak, jawabmu.

18 Maret 2007, malam itu aku mati.

“Berdamailah dengan masa laluku. Dan nikahi aku lagi.”

“Aku tidak akan pernah bisa menikahi masa lalumu. Lebih baik aku mati mendengki, lalu hidup sebagai ilusi. Satu-satunya harapanku adalah kau menikahi masa depanmu. Itu aku, itisalmu.” Aku bisa merasakan tubuhku mulai hilang dan terkoyak bersama angin. Aku masih berharap agar satu-satunya cinta dalam hidup suamiku hanyalah diriku. Satu-satunya bibir yang ia kecup hanyalah bibirku, dan satu-satunya tubuh yang berada dalam pelukannya adalan milikku. Tapi aku telah terlanjur mati, begitu pula dengan harapan-harapan tadi.

what makes it perfect…

brnchewy @ tumblr

Carla from Scrubs