Surat dari Narsisius

Posted in Prosa Cakadul Kurai on February 7, 2010 by Kurayama Kawagichi

Usiaku hampir menginjak kepala dua dan aku merasa belum berguna untuk siapapun. Tujuanku hidup di dunia ini masih kabur meski bukan berarti aku ingin mati. Aku sudah mengenal kematian dan aku berkawan dengannya. Satu hal yang membedakannya dengan kehidupan adalah, aku menghargainya. Kujunjung kematian di tempat teratas yang paling suci. Tapi bukan berarti aku menyepelekan kehidupan. Ia, Hidup, lebih seperti induk bagiku. Aku sering bersembunyi di balik ketiaknya meski aku juga sering merusak pekarangannya yang indah.

Aku merasa tidak dimiliki siapapun. Usiaku mendekati dua puluh tahun. Tanganku hampir meraih puncak dunia, dan aku masih merasa kosong.

Aku tahu aku labil. Kadang aku bisa merasakan emosi menguasai jemariku untuk menyakiti orang lain. Aku bersukacita karenanya, meski setelah itu aku akan tersungkur sambil menangis meraung-raung menyesalinya.

Kehidupanku tidak bisa dibilang sempurna, karena arti dari kesempurnaan itupun bias. Aku mensyukuri hal-hal baik yang terjadi pada diriku sama seperti ketika aku mengutuk Tuhan untuk setiap kesialan. Aku bukan tipe orang munafik. Jika aku tidak suka, bibirku mengatakannya. Aku telah kehilangan banyak kawan karenanya. Akibatnya, aku kini memuja kawan-kawanku masa ini. Bertahan di sisiku selama ini, entah berapa besar perasaan mereka korbankan.

Di balik fisik dan kata-kataku yang tinggi dan dingin, ada seorang pengecut rapuh penuh dosa dibaliknya.

Aku tidak mencintai orangtuaku, bukan berarti aku membenci mereka. Sembilan belas tahun sudah kuhabiskan waktuku bersama mereka, apa mau dikata. Aku tak bisa memilih orang tua. Mereka pun tak bisa memilih anak yang mereka suka. Yang lebih cerdas, yang lebih penurut, yang lebih normal. Yang, tidak merasa tertekan karena status keanaktunggalannya. Bebanku terlalu berat untuk dipikul. Harapan-harapan banyak orang, paling utama orang tuaku sendiri. Hidupku tidak lagi milikku sendiri. Perbuatan dan tingkah lakuku tidak merdeka begitu saja. Ada yang harus dijaga, eksistensiku sebagai anak semata wayang.

Kawan, aku harus undur diri saat ini juga. Jika ada waktu, aku akan menghubungimu lagi, dan mungkin bisa berbincang sore kembali. Ah, berbincang.. sepertinya bukan kata yang tepat untuk kondisi kita saat ini. Maafkan keegoisanku ini. Aku tahu kau mengerti.

Salam.

An Ode To: None.

Posted in Prosa Cakadul Kurai with tags , , , on August 4, 2009 by Kurayama Kawagichi

For the liberty we stand

Decline the hopeless and emptiness behind

Walk alone, start nothing

Dark the light and keep it in the secret box

For the rose white we hold

Take the seat under the open fire

Do you still remember our memories?

When houses isn’t a home anymore, a land

Yes. A land.

I told strangers; Something wrong in this world

They answered; You are

Time, accurate, wind, connection

I have no brave heart, strangers

My foolish one

For my lack of life I scream an ode

Boo!

Boo.

Boo-oom.

Hitam, Biru, Bahkan Transparan

Posted in Prosa Cakadul Kurai on April 21, 2009 by Kurayama Kawagichi

Aku tidak permanen dan manis

Menjadi hitam, biru, bahkan transparan

Mengingatkan akan sebuah titik kosong di dalam hampa udara

Berharap lebih – berharap kurang – bersembunyi

Tidak ada pijakan kaki untuk melangkah

Menyebrangi sungai besar dengan dandelion di sisi-sisinya

Menyeruak atmosfer kenangan; baik dan buruk

Dan mulai berpikir, ‘jika saja’

Manusia selalu seperti itu, terlalu banyak kemungkinan yang ingin diraih

Hingga pada akhirnya menutup mata akan kesempatan yang terhampar

Kemudian, di masa depan

Mulai menghayal tentang ‘jika saja’- lagi

Terus seperti itu

Kontinuitas yang melelahkan dari jiwa sebuah manusia

Satu lagi.

Hidup yang paling sengsara, seperti hidup di kerak neraka

Celaka tiga belas kalau begitu

Aku hidup dimana jika kerak neraka penuh sesak?

Aku bukan anak bumi, dibenci surga

Ada yang mau menampung?

je te déteste, mon amour..

Posted in Sahabat dan Kurai on March 29, 2009 by Kurayama Kawagichi

Kutipan percakapan antara Kurai dan seorang sahabat via Y!M. Memberi pengertian mendalam dari kata– perasaan.

***

KuraiK: saya bosen kek gini terus.. gak bisa mundur, apalagi maju..
stuck.

just_call_her_whatever: mau mundur, tp ada harapan utk maju…mau maju tp takut…

KuraiK: mau mundur, tapi kesempatan masih mengintip.
mau maju, tapi ada yang menghalangi.
maju..
jika hanya saya yang maju, gunanya apa?

just_call_her_whatever: :|
kenapa…kita…sangat mirip?

KuraiK: kenapa kita, harus terjebak pada situasi yang sama?

just_call_her_whatever: kenapa… harus berpegang pada masa lalu?
apa karena lebih manis?

KuraiK: jelas. masa lalu, jika bisa hidup di dalamnya sekali lagi, siapa yang akan menolak?
lebih ingin mati suri di dalam masa lalu, daripada menginjakkan kaki menuju masa depan– yang bahkan tidak berani kita bayangkan akhirnya.

just_call_her_whatever: di depan sana, yg kuliat cuma air mata
di belakang sana, ada senyum
berkali2 aku bohongi diriku supaya tersenyum
tapi dia dengan sikapnya, mematahkan itu

KuraiK: ketika menoleh ke belakang, ada sedikit perasaan sayang
ketika kembali lagi menghadap ke depan, hanya ada getir
berharapberharapberharap—-
selalu, kata itu terulang
tanpa pernah ada jeda
namun sampai kapan bisa bertahan?

just_call_her_whatever: kenapa dia ada hanya untuk menoreh luka?
apa dia pikir—
setelah semua senyum itu—
maka aman untuk menjauh begitu saja?
kalau mau sakiti aku
sakiti saja sampai berdarah2
sakiti aku sampai aku menangis terus
sakiti aku sampai aku muntah darah
jangan..sakiti..lalu buat aku tersenyum lagi…
itu lebih sakit daripada semua diatas…
karena rasanya
senyum itu sia2. kosong. hampa. tidak guna.

KuraiK: tangan yang sudah digenggam, hendaknya dijaga
jika sudah dilepaskan,
maka tidak ada harapan untuk bisa kembali
hal sederhana seperti itu, menjadi rumit untuk dipahami
datang jika merasa suntuk? dan membuat perasaan menjadi seperti pelampiasan
silakan.. silakan..
sudah perih, taburkan garam dan paku..
sem. pur. na.

just_call_her_whatever: ah ya. mudah.
mudah untuk pergi begitu saja.
mudah untuk melukai begitu saja.
dan datang lagi.
pergi lagi.
M-U-A-K.
tapi bisa apa?
bibir ini refleks tersenyum
tangan ini refleks menggenggam
mau benci? susah.

KuraiK: tepat. tepat seperti itu, saudariku..
bagai angin, tidak pernah berhenti di satu tempat
sesuka hati datang, tanpa pemberitahuan pergi
perasaan seperti ini,
bagaikan jejak kaki di atas pasir
sudah dijejakkan, namun kemudian hilang diseret ombak
—–tidak pasti akan terbalas.
lelah.
aku tahu.

just_call_her_whatever: dengan mudah ia gunakan “waktu” untuk alasan.
berkali-kali membuatku yang sudah akan menjauh
jadi mundur lagi
curang.

KuraiK: licik– mari kita sebut demikian.
padahal sudah memantapkan hati akan bertahan
akan menjauh, menghindari kesalahan yang sama
namun hasilnya?
nihil.
dia tiba-tiba saja muncul lagi, menyodorkan tangannya yang nista untuk diraih.
MUAK.
MUAK.
MUAK.
dan,
lelah, tentunya…

just_call_her_whatever: curang. curang. curang.
dia boleh menyakiti
lalu aku?
tidak boleh?
tentu saja tidak boleh.
ah bukan
tidak BISA
karena?
karena jika ingin menyakiti—butuh perasaan
dan perasaan
itu—
tidak ia milikki.
*miliki

KuraiK : damn. hell yeah.
selalu menebak-nebak apa yang ada di hatinya
mengukur seperti apa mimiknya
dan memberi pengandaian tentang pikirannya..
sangat tidak beruntung, kita ini
sepertinya, jika boleh kusebut— bertepuk sebelah tangan.

just_call_her_whatever: ah—bertepuk lebih mujur sist
kalau aku tahu aku bertepuk
aku lebih lega
tapi jika aku tidak tahu?
dia sakiti aku—dia beri aku harapan bahwa aku tidak bertepuk sebelah
tapi lalu dia buat aku tersenyum—dia beri aku pengadilan bahwa aku bertepuk sebelah
lelah untuk menebak
lelah untuk menangis
lelah untuk tersenyum

KuraiK: aku juga menangis, percayalah..
namun aku merasa sedikit beruntung, tidak berjalan sendirian..
ada kamu.
itu cukup.
dan tentang dia?
jika bisa, ingin kukatakan; ‘Lupakanlah.’
namun jika kukatakan hal itu,
kebohongan besar telah kulakukan pada hatiku sendiri
tidak bisa melupakan
namun juga tidak bisa mempertahankan
dan akhirnya?
ter. je. bak.

just_call_her_whatever: yeah. bohong jika bisa lupa.
bohong juga jika bilang benci
tapi salah kalau bilang sebaliknya.
“bodoh”—lebih tepat untukku.  :)

KuraiK: tar.. low batere *nyungsepin charger*
dan kau bisa panggil ‘pecundang’ padaku.  :D
jiah- mangstabh banget deh kata2 kita nih :) )

just_call_her_whatever: sist, rasanya gak rela juga kalau jatuh karena dia

KuraiK: jelas lah =..=

just_call_her_whatever: saya jatuh
saya nangis
lalu dia?
berdiri disana

KuraiK: air mata ini sudah jatuh

just_call_her_whatever: tertawa
NGGAK RELA

KuraiK: bagaimana dengan dia?
melanjutkan hidup begitu saja
baik. teruskan.
mungkin tubuh ini akan membusuk perlahan..
dan dia bisa menyesalinya suatu hari nanti
terdengar sangat pecundangkah?

just_call_her_whatever: jangan.
ingin rasanya buat dia menyesal skrg juga
ketika saya masih hidup dan bisa melihatnya

KuraiK: tunjukkan padaku jalannya, jika begitu
karena aku sudah buta
tidak bisa lagi melangkah

just_call_her_whatever: ah entahlah
jalan seperti apapun
rasanya bingung

KuraiK: benar.
entahlah.
entahlah hidupku ini akan dibawa kemana
namun asal aku tahu ada yang berdiri di sampingku,
seperti saat ini,
kurasa aku akan baik-baik saja.  :)

just_call_her_whatever: :)

KuraiK: >:D<

just_call_her_whatever: >:D<  I’ll be there 4 u sist

KuraiK: this i promise you, too. I. WILL. BE. HERE. FOR. YOU.

just_call_her_whatever: :)

KuraiK:D

***

Anda pikir ini sudah semuanya? Belum. Dua makhluk nista ini masih mampu untuk menertawakan diri dan nasib mereka. Mencari judul bukanlah hal yang mudah, dan Kurai yakin, Anda pasti mengerti.

***

KuraiK: enaknya, judulnya apa yak?

just_call_her_whatever: Conversation? No. More than that =))

KuraiK: =)) dodol
seriusan inih..

just_call_her_whatever: nggak tahu =))

KuraiK: binun :|
Conversation No.1
=))

just_call_her_whatever: =))
Confession No.1 Afghan aja sekalian =))
[s]Confession[/s] Conversation No. 1 =))

KuraiK: =))
emangnya mo ngelucu? =))
TOGETHER WE CRY!
:) )

just_call_her_whatever:  =)) JANGAN
Lembek amat =))

KuraiK: ini lagi dengerin lagunya the script ada kata2 ntu =))
ato
TOGETHER WE CURSED
=))
*dibakar*

just_call_her_whatever: =))

KuraiK: LAYANGAN
soalnya tarik-ulur =))

just_call_her_whatever: mending..
je te déteste, mon amour.

KuraiK: apa artinya? =3

just_call_her_whatever: I hate you, my love. =))

KuraiK: =)) lembek

just_call_her_whatever: I hate you–benci
tapi di saat yang sama
tidak bisa menolak bahwa ia berbohong =))
dan perasaan yang dikubur itu
malah tertera di kata selanjutnya =))

KuraiK: =))=))
i hate you, MY LOVE.
=))=))=))

just_call_her_whatever: =))

KuraiK: done. pake judul ntu.  :D

just_call_her_whatever: linkkk!!

KuraiK: tar.. koneksi abal =..=

***

Nah, jika pada titik ini Anda berpikir bahwa percakapan sarat makna ini berakhir, Anda benar. Ah, Kurai tidak perlu lagi menjelaskan tetek-bengek tentang apa hal ini, kan? Semuanya sudah tergambar. Dengan jelas. Jika Anda tidak buta, tentunya.

Goodbye Papa, Goodbye Mama

Posted in Puisi-puisi Kurai on March 21, 2009 by Kurayama Kawagichi

Papa, so sorry, I apologize
I’ve let down the family name
On more than one time
Because it doesn’t work that way
You know, Pa
We all have a secret
You couldn’t crush to bits mama
I couldn’t do it either
I have my own life
Not exactly the life for the murder
I am not a killer, you are

Mama, so sorry, I beg you
I keep none to myself
You have to let me go
I know it doesn’t sound like me
But I can do nothing

“There well, off you go.
But you know, when you go down,
I can take your breath away whenever I want,
my child.”
“I know. Very well then.”

I am no man
I fall in l*v* with man

***