Untukmu Perempuanku II (Kusuma Hati Milikku)

Untuk kalian pada anak-anak perempuan berpipi kemerahan, yang kehilangan keriaan masa kecil dan tergantikan oleh perih-perih ekstensif akibat serpihan yang menyayat lalu membuyarkan senyuman itu menjadi sibiran kemalangan; berlarilah padaku, lalu akan kusentuh satu-satu luka-luka itu dengan sebuah ciuman yang mencelikkan.

Untuk kalian pada remaja-remaja perempuan yang limbung dan hilang arah, yang tersakiti dan menyakiti diri sendiri lalu merasa bahwa dunia tidak lagi menyenangkan seperti taman bermain di mimpi-mimpi kelam kalian; genggamlah tanganku, dan akan kuletakkan jari-jari kelelahan kalian di dekat dadaku dan membiarkan detakku yang dekat rusuk itu menjadi taklid buta yang menjaga nafas kalian tetap menyekat erat.

Untuk kalian pada wanita-wanita paruh baya yang terhimpit oleh dunia dan dijanjikan harum manis sebuah gambaran keluarga, dan terusakkan oleh kilasan nasib yang lalim yang menggelikan; bersandarlah di bahuku, dan meskipun ia hanya sepotong tulang keras dan terasa tidak nyaman, tapi ketulusan yang kutawarkan adalah satu-satunya hal yang berharga yang bisa kalian temukan di tengah-tengah kebejatan nasib yang dikendalikan oleh masyarakat biadab.

Untuk kalian pada semua ibu yang telah rampung menyusui hingga buah dada kalian melorot dan mengenalkan serta mengajarkan arti kehidupan pada tiap-tiap keturunan kalian, memberikan gambaran bahwa pada akhirnya kepompong akan bertumbuh menjadi kupu-kupu, garis cakrawala bukanlah batasan bagi manusia, dan bahkan orang yang paling berdosa pun pantas mendapatkan pengampunan; tidurlah di dadaku karena tubuh ini adalah rumah, tempat peristirahatan abadi yang memandang kalian sebagai primadona paling berharga.

Dan lalu, untuk kalian para dara-dara cantik yang mengorbankan selangkangan, yang berkewajiban menjanjikan kesenangan lantas membiarkan pada laki-laki merasakan kenikmatan meski hati kalian telah terkoyak dan yang tersisa hanyalah rongga kosong yang dalam dan berdarah; aku akan bernafas pelan dalam farji-farji penat itu, meniupkan sebuah doa dan berharap agar kalian bahagia, dan dunia bisa segera mati agar kalian tidak lagi merasa berdosa.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan jejak manusiamu di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 212 other followers