Pada Sebuah Masa

Sudah berapa tahun kota ini kutinggalkan? Enam? Sepuluh? Duapuluh? Dalam sudut ingatanku, ada bayangan-bayangan buram tentang cerita-cerita masa lalu. Tentang bagaimana dulunya udara kota ini begitu bersih hingga rasanya lubang hidungku menjadi dingin hanya karena telah menghirup suasana pertama yang kutangkap setelah aku bangun tidur. Waktu itu, persis seperti yang kuingat saat ini, adalah masa kecilku. Ibu bilang aku dulu adalah bocah yang terlalu aktif hingga ia memaksakan usiaku yang terlalu muda untuk masuk taman kanak-kanak nol kecil. Simbah bilang aku ini cucu paling nakal karena terlalu sering bermain hingga lupa waktu. Ayah bilang… ah, aku ingat bahwa ayah tidak mengatakan apapun. Ia pergi sebelum aku kecil, sebelum aku mampu menyadari bahwa dulu kawan-kawanku punya satu wanita dan satu pria dalam hidup mereka yang disebut dengan orang tua.

Sudah berapa tahun? Kurasa lima belas lebih sedikit. Ini masih kota yang sama dalam ingatan, hanya saja ada perubahan pada beberapa sudutnya. Ada perubahan pada bangunan yang dulunya kupikir statis. Ada perubahan karena polemik politik. Ada perubahan pada sikap toleransi masyarakat. Ini kota kelahiranku, dan perubahan-perubahan kecil ini membunuh hatiku pelan-pelan. Aku berusaha mencoba menghirup udara sekarang, dan yang kurasakan hanya rasa sakit hati yang dalam, entah karena alasan apa. Mungkin mereka lelah meski hanya untuk sekedar bernafas, atau mungkin itu hanya dengki yang tersembunyi terhadap satu sama lain.

Pendidikan yang kukecap di sini hanyalah taman kanak-kanak lalu sekolah dasar. Ibu membawaku pergi ke kota lain pulau setelah simbah seda. Ia tak tahan dengan kesendirian yang ditawarkan kota kecil ini. Bisa dibilang, aku tumbuh dengan baik tanpa kurang suatu apa. Sebagai murid sekolah dasar, aku cukup pintar dari anak-anak kebanyakan meski aku tidak suka belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah.  Aku lebih senang bermain sepeda dengan teman-teman di sekitar rumah daripada menerapkan jam wajib belajar yang dulu diharuskan pemerintah. Pemerintah, hanya jadi bahan guyonan untuk anak-anak kampung sepertiku.

Dulu, jika ibu marah, simbah yang akan membelaku. Ibu bilang aku ini jahil. Simbah menambahkan, itu berarti aku anak yang tabah. Ibu bilang aku terlalu cerewet, tapi simbah menenangkanku dan berkata bahwa itu berarti aku peduli. Jika dipikir-pikir lagi, simbah menurunkan kepadaku lebih banyak sifat ketimbang ibuku sendiri. Beliau selalu bisa melihat sisi baik orang lain, karena itu ia mudah dimanfaatkan bahkan oleh aku yang dulu. Sekarang, aku pun seperti itu, alasan yang membuatku kini menjadi orang tak berpunya karena kawan karibku telah menjebakku dalam sekat-sekat suram yang bernama kehidupan. Lalu kini aku memulai semuanya dari titik nol awal hidupku, kampung halaman.

Bayangan-bayangan buram tadi kini makin pekat dan mendiami otakku dengan penuh semangat, membuka-buka lipatan terdalam ingatan masa kecilku yang hilang, menyusunnya perlahan bagai sebuah gambar acak yang berceceran. Tiba-tiba aku teringat pada hari itu; siang yang terik, sepulang sekolah. Aku masih mengenakan celana pendek berbahan panas yang biasanya digunakan untuk pelajaran olah raga. Aku masih mengenakannya bahkan hingga pulang sekolah. Waktu kecil aku tidak terlalu senang memakai rok, dan kebiasaan itu berlanjut hingga kini. Sepulang sekolah pada hari itu, aku harus mengikuti kelas ensemble, berisi anak-anak pilihan kepala sekolah untuk menyajikan sebuah hiburan kecil pada perkumpulan orang tua murid esok paginya. Aku memutuskan untuk keluar gerbang sekolah, hinggap pada gerobak-gerobak berwarna-warni dan meraup apapun yang aku suka hingga pada akhirnya aku melihatnya. Ia berjualan gulali ndeso, dengan serbuk putih yang setelah beberapa tahun setelahnya kuketahui itu adalah gula halus. Tangan kurusnya yang berkeriput bergerak dengan cekatan, membuat jalinan-jalinan halus dan tipis yang lantas ia ikat sedemikian rupa sehingga membentuk kepangan manis. Lalu ia mulai memeragakan kembali, dengan cetakan kayu yang (sepertinya) dikerik sendiri hingga membentuk bulatan-bulatan nanas, anggur, strawberry, dan mangga. Aku mendekatinya dengan rasa ingin tahu yang besar, menduga-duga bagaimana rasa gulali itu dalam mulutku hingga kehilangan kesadaran sampai pada akhirnya tangan itu terjulur padaku. Aku mengambilnya dengan ragu dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, lalu ikut berjongkok di sampingnya, menikmati rasa manis-pahit yang lumer dalam rongga mulutku… hingga suara salah seorang guru memanggil namaku dan berteriak bahwa kelas sudah dimulai. Aku berlari, menatap nenek itu dalam satu tolehan, dan masuk kelas. Tentu saja, aku lupa membayar makananku yang satu itu. Tapi sejak itu, meski kami tidak saling berbicara, kami menjadi kawan baik. Tiap pulang sekolah aku akan duduk di sisinya, berteriak membantunya menjajakan gulali karena suaranya terlalu lemah dan lelah untuk sekedar memanggil laron-laron pemangsa sampah-sampah, maka kuputuskan itu menjadi tugasku. Bayarannya? Satu kepangan gulali gratis tiap hari.

Hingga pada akhirnya aku lulus dari sekolah dan mulai melupakannya. Melupakan impian dan janji pada diriku sendiri bahwa aku ingin membahagiakannya. Membahagiakan nenek yang tak kukenal seperti simbahku sendiri. Akan kubuatkan ia rumah kecil dengan petak tanaman dan sebuah pohon rindang. Akan kuberikan ia perlindungan agar tidak lagi kepanasan saat berjualan. Aku akan memegangi payungnya dan berteriak bahwa gulalinya adalah yang terbaik, lalu mengusir hujan agar pergi. Aku bahkan berdoa pada Tuhan agar aku diberi kesempatan untuk menemuinya lagi, agar ia masih diberi umur kita aku menjadi orang kaya, lalu akan kuwujudkan khayalan kecilku tadi.

Tapi manusia tidak hidup di dalam cerita dongeng Disney. Aku memandangi gedung sekolahku, lalu menatap hampa pada dinding tempat nenek berjongkok tiap harinya. Aku tahu, ia tidak mungkin hidup hingga saat ini. Aku yang sekarang juga hanyalah orang miskin yang punya banyak hutang. Aku mengerjapkan mata, lalu gambaran-gambaran yang jelas tadi mulai pergi. Dari ingatan, dari perasaan, dari segala kemungkinan hidupku yang kecil. Apakah aku sebenarnya masih hidup di saat ini? Ataukah sebenarnya aku telah lama mati dan nenek itu yang sebenarnya masih hidup, dan aku tinggal dalam ingatannya? Atau ia sebenarnya hanya kembang mimpi dalam ingatan masa kecilku yang mengabur, yang berusaha terus ada hanya untuk mengingatkan diriku, bahwa aku dulu pernah menjadi seorang anak-anak.

Pada sebuah masa, kupikir aku memang pernah jadi anak-anak, dan aku sudah melakukan yang terbaik dalam waktu-waktu dahulu.

_______________

seda = wafat

simbah = eyang/nenek

ensemble = grup musik

ndeso = kampungan

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan jejak manusiamu di sini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 212 other followers