Aku Tidak Menikahi Masa Lalumu
Tuhan membawaku pergi ke malam itu. Ketika aku bertanya kenapa, Ia sama sekali tidak mengatakan alasannya. Aku hanya terdiam, mengira-ira apa yang selanjutnya terjadi dan bagaimana nantinya semua ini berakhir. Aku duduk di bangku kayu, memandang gelapnya bayangan pohon tua di samping gereja. Angin yang berhembus telah membawakan kenangan-kenangan stokastik sendu, dan aku memalingkan wajah memandang Tuhanku.
“Untuk apa ini semua?”
Ia hanya tersenyum, menggenggam tanganku, dan menuntunku masuk ke dalam gereja. Aku mulai bertanya-tanya dosa apa yang telah kuperbuat hingga Tuhan membawaku keluar dari surga dan menenggelamkanku lagi ke dalam gambaran ribuan tahun yang pekat ini. Tiap langkah yang kulalui, menjadi semakin berat. Udara yang kuhirup, semakin kotor. Dan altar itu, altar yang suci itu, aku memandang wajah Tuhan lagi.
“Apa itu tempatku disembelih?”
Ia menggeleng. Aku lega. Tapi Ia lantas menunjuk tempatku berdiri dan berkata, “Di sini, tempatmu membunuhnya.” Lalu ingatan purba itu mulai merasuki tubuhku, seperti asap kasat mata yang memenuhi otakku, masuk ke rongga-rongga dan menyisakan sedikit rasa sakit yang membuat tubuhku timpang dan terduduk lemas. Aku merasakan basah di pipiku, yang aku sadari bahwa itu adalah air mata. Ketika manusia surga menangis, ia akan menjadi fana. Debu kembali menjadi debu. Aku masih menangis, seperti air keran yang tidak bisa berhenti, aku menangis. Malam ini aku menangis dan aku merasa seperti terlahir kembali.
“Ayah, kenapa?”
“Cintailah masa lalunya.”
“Aku tidak bisa. Aku menikahinya, tapi aku tidak mau menikahi masa lalunya. Wanita-wanita itu kotor. Tidak pernah ada penyesalan yang kurasakan. Aku mencungkil mata tiap wanita yang melirik pujaan hatiku. Aku memotong lidah para wanita yang bicara pada pujaan hatiku. Dan aku merenggut jantung mereka saat aku tahu mereka menjadikan pujaanku satu-satunya sebagai jantung hati mereka.”
“Kau menggantung mati masa lalunya.”
“Ya. Aku memberangus masa lalunya. Kuberi kail di tiap-tiap kemaluan mereka dan kugantung mereka di bawah jembatan kota agar semua orang melihatnya!” Lalu aku berteriak, melolong ketakutan, dan menangis penuh kesedihan. Tuhan mengulurkan tangan sucinya padaku, aku menggantungkan hidupku padanya, dan ia, satu-satunya laki-laki yang pernah kucintai, berdiri di depanku. Sosoknya masih sama persis seperti dalam ingatan. Rambutnya hitam pekat, sebatas leher dan terlihat sangat rapi. Tatapannya masih tajam, hidungnya masih sama runcing, dan bibirnya yang tertekuk turun terlihat begitu nyata.
Setelah semua yang kulakukan untuknya, setelah semua cinta yang kuberikan untuknya, ia pergi. Aku ditangkap, ditelanjangi, dan disembelih di atas altar gereja karena seorang penyihir tidak bisa hidup di antara orang-orang suci. Saat itu, dalam tangisan darahku, aku bertanya pada suamiku, ”Kalau aku pergi, apa kau akan merindukanku?”
Tidak, jawabmu.
18 Maret 2007, malam itu aku mati.
“Berdamailah dengan masa laluku. Dan nikahi aku lagi.”
“Aku tidak akan pernah bisa menikahi masa lalumu. Lebih baik aku mati mendengki, lalu hidup sebagai ilusi. Satu-satunya harapanku adalah kau menikahi masa depanmu. Itu aku, itisalmu.” Aku bisa merasakan tubuhku mulai hilang dan terkoyak bersama angin. Aku masih berharap agar satu-satunya cinta dalam hidup suamiku hanyalah diriku. Satu-satunya bibir yang ia kecup hanyalah bibirku, dan satu-satunya tubuh yang berada dalam pelukannya adalan milikku. Tapi aku telah terlanjur mati, begitu pula dengan harapan-harapan tadi.

No trackbacks yet.