Tuhan,

aku belum boleh pulang?

Advertisements

Perkara Paling Aneh

Pada malam sebelum pernikahan berlangsung, sang ibu pengantin berkata pada putrinya si calon pengantin,

“Ingat,
yang utama adalah cintamu untuk orang tuamu,
bukan kepada suamimu.”

I.
Sejak malam itu, rasa cinta dari si calon pengantin bagi calon suaminya mulai pudar.

II.
Calon pengantin menjawab,
“Pada calon suamiku kutemukan cinta,
dimana cintamu untukku?”

III.
Matilah dunia, ketika cinta ikut aturan manusia.

1, 2, 3

Satu, dua
Aku ambil pisau dapur lalu kusobek lambung

Satu, dua
Subuh kugantung leher di pohon mangga tetangga

Satu, dua
Tubuh dilindas di bawah ban truk kontainer

Satu, dua
Melayang jatuh sampai terserak organ dalam

Satu, dua
Biar jantungku dimakan anjing!

Satu, dua
Satu, dua
Satu, dua

Aku takut menghitung sampai tiga.

Perumpamaan Perumpamaan

 

I.
Ali hanya menunduk. Ia dengarkan saja omelan ibunya sejak sepuluh menit tadi. Bocah delapan tahun itu hanya mengerucutkan bibir. Ibu meninggikan suara, berpendapat bahwa Ali bukan anak yang baik. Bukan anak yang suka kebersihan. Bukan anak yang terpuji karena tidak mau barang sedikit saja membantu ibunya. Ali dimarahi perihal botol minum kosong bekas bekalnya sekolah tadi, disimpan di bawah lemari. Buat apa? Tanya ibu. Namun sebelum Ali sempat menjawab, ibu telah benar-benar menganggap Ali hanyalah ilalang dalam halaman. Anak yang menyusahkan, membuat ibu kerepotan. Padahal ibu, sebenarnya Ali menyimpan botol kosong itu agar bisa ia gunakan lagi nanti. Ali terbiasa minum banyak, membuat tumpukan gelas di cucian. Namun hari ini ia memiliki ide sederhana agar tak membuatmu kepayahan mencuci gelas-gelas bekas; menggunakan lagi botol minum bekal sekolah. Ali masih menunduk, sementara ibu masih mengamuk.

Begitulah Ali, hanya contoh dari segelintir kebaikan-kebaikan sederhana dari anak kecil yang tak dipahami oleh orang dewasa.

II.
Ira hanya menunduk. Derai tawa teman-teman satu kelas membuatnya malu, namun ia tak menangis. Bapak guru barusan memberikan pertanyaan kepada murid-murid kelas 2 SD itu, “Daun apa yang biasanya digunakan untuk membungkus makanan?” dan telunjuk sang guru mengarah ke bangku kayu Ira. Di dalam kepalanya, ia telah menemukan satu jenis daun yang biasa digunakan untuk membungkus bandeng yang dijual mbok Sarni tiap pagi di depan komplek rumah. Tapi Ira tidak tahu jenis apakah daun itu. Maka ia hanya terdiam, dan sang guru bertanya, retoris, “Masa jawaban untuk pertanyaan semudah itu saja tidak tahu?” Di dalam kepalamu, kepala sang guru, kepala anak-anak yang berderai ketawanya, kupastikan daun pisang sebagai jawaban. Tapi daun Ira bukan daun pisang. Mbok Sarni selalu membungkus bandeng-bandengnya menggunakan daun jati karena banyak pohon jati tumbuh subur di belakang rumahnya.

Begitulah Ira, yang memiliki pemahaman yang berbeda namun disalahkan karena tak sejalan dengan dunia.

Rumah Ini Sepi

Sudut rumah ini begitu sepi. Kadang, dalam satu hari, tak ada satu pun makhluk mengajakku bicara kecuali angin, itupun sambil lalu. Ia hanya akan menghembuskanku, bercerita tentang siang yang mendung, lalu pergi lagi. Sudut yang kutempati ini begitu sepi, meski begitu, aku tak pernah kesepian. Seorang anak perempuan selalu menemaniku di malam hari. Ia berambut panjang, selalu mengenakan pita berwarna ungu, dan bicaranya sedikit. Malah, lebih sering diam. Pada satu waktu aku aku pernah bertanya padanya perkara pipinya yang lebam membiru. Namun tak kutemukan jawaban, selain gema sesenggukan dalam ruang kosong yang pilu. Aku hanya membatu, tak sanggup menjamah apapun yang tersisa dari dadanya yang kesulitan bernafas setelah tangisan yang keras. Hari hari semacam itu bersamanya membuatku merasa lebih sepi, meski tak kesepian. Namun kini telah genap tujuh hari aku sendiri. Angin hanya sekali sekali datang karena pintu lebih sering tertutup, sementara anak perempuan berpita ungu itu tak lagi pernah datang. Desiran udara keras membuatku terayun dan dua orang dewasa muncul. Aku selalu takut pada orang dewasa, karena orang dewasa tak suka pada sarang laba laba. Dan benar saja, sudut yang kutempati kini dibersihkan, membuatku tersangkut pada batang batang tipis sapu ijuk. Aku pasrah. Sebelum aku tercerai berai, aku kini mengerti mengapa sudut rumah ini begitu sepi, mengapa aku merasa kesepian.

 

“Aku sebenarnya enggan masuk ke gudang ini. Kau dengar gosipnya, kan?”

“Kalau anak perempuan yang kemarin dipukuli ayahnya sampai mati itu suka sembunyi di sini?”